17 Des 2010

Raden Wijaya dan Awal Berdirinya Majapahit

Kerajaan Singhasari berakhir setelah wafatnya raja Kertanegara dan digantikan oleh Jayakatwang. Tersebutlah Wijaya, seorang keturunan penguasa Singhasari yang memiliki niat untuk merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya dari raja Jayakatwang. Wijaya adalah seorang anak dari Dyah Lembu Tal, cucu Mahisa Campaka atau Narasinghamurti, yang berarti Wijaya masih merupakan keturunan Ken Angrok dan Ken Dedes secara langsung. Dari genealoginya, Wijaya masih keponakan dari raja Kertanegara, bahkan menurut sumber kesusasteraan, yaitu Kitab Pararaton dan beberapa kitab kidung, ia dinikahkan dengan dua orang putri raja Kertanegara. Sedang menurut sumber prasasti dan Kakawin Negarakertagama,ia menikah dengan empat orang putri raja Kertanegara.

Wijaya ditunjuk oleh raja Kertanegara sebagai pimpinan pasukan untuk melawan pasukan Jayakatwang dari Kadiri yang hendak menyerang Singhasari dari sebelah utara. Kisah peperangan ini dijelaskan di dalam Prasasti Kudadu yang berangka tahun 1216 Saka.Pada saat itulah, Wijaya yang kala itu belum menjadi seorang raja, dan bernama Nararyya Sanggramawijaya terus berkejar-kejaran dengan pasukan musuh yang berasal dari Kadiri hingga banyak pasukan Wijaya yang gugur di medan perang, dan Wijaya tersesat di desa Kudadu dalam keadaan lapar, lelah, dan letih namun disambut baik oleh penduduk setempat.

Dalam Prasasti Sukamrta, disebutkan bahwa Wijaya menyebrangi lautan. Tentu yang dimaksud adalah kepergiannya ke Madura sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kudadu. Di Madura, ia diterima oleh Aryya Wiraraja, yang kemudian mengusahakan agar Wijaya dapat diterima menyerahkan diri kepada Jayakatwang di Kadiri.2 Akhirnya Wijaya mendapatkan kepercayaan penuh dari Jayakatwang sehingga permintaannya atas daerah Hutan Terik untuk menjadikan daerah tersebut sebagai pertahanan terdepan dalam menghadapi musuh yang menyerang melalui Sungai Brantas, dikabulkan oleh Jayakatwang. Lalu dengan bantuan Aryya Wiraraja, Wijaya membuka daerah Hutan Terik tersebut menjadi sebuah desa yang bernama Majapahit.

Sebagai seorang yang masih menginginkan untuk merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya dari Singhasari yang telah direbut oleh Jayakatwang, Wijaya diam-diam mempersiapkan diri sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyerang Kadiri. Dan di Madura, Aryya Wiraraja pun telah bersiap dengan pasukan-pasukannya untuk membantu Majapahit menyerang Kadiri. Akhirnya tibalah waktu yang tepat bagi Wijaya untuk menyerang Kadiri. Berdasarkan catatan pemimpin tentara Mongol, pada tahun 1293 datanglah bala tentara Kubilai Khan yang sebenarnya dikirimkan untuk menyerang Singhasari karena dahulu, raja Kertanegara telah menganiaya utusan dari mereka yang bernama Meng-Ch’i.

Sehubungan dengan kedatangan pasukan Cina itu, Wijaya mengirimkan utusannya kepada panglimma pasukan Cina, membawa pesan bahwa ia bersedia tunduk di bawah kekuasaan kaisar dan mau menggabungkan diri dengan pasukan Cina untuk menggempur Daha. Hal ini dijelaskan dalam Kidung Harsa Wijaya, yang menyatakan bahwa atas nasihat Aryya Wiraraja, Wijaya bersikap menyerah kepada panglima tentara Tartar dan memberitahukan bahwa raja Kertanegara telah wafat dan penggantinya adalah Jayakatwang dari Kadiri.

Dengan bantuan dari pasukan Wijaya, maka berkobarlah peperangan. Tentara Cina menggempur Daha dengan dahsyatnya hingga akhirnya Jayakatwang menyerahkan diri. Jayakatwang ditawan bersama dengan seratus orang anggota keluarga dan pejabat tinggi kerajaan.

Setelah pertempuran selesai, Wijaya tidak dapat ditemukan di Daha. Ternyata, Wijaya diperbolehkan untuk kembali ke Majapahit untuk mempersiapkan upeti yang akan dipersembahkan kepada kaisar. Dalam perjalanan kembali ke Majapahit itu, Wijaya didampingi oleh dua orang opsir dan 200 tentara Cina. Akan tetapi, dengan tipu muslihat hebatnya, Wijaya berhasil membunuh kedua opsir Cina tersebut dan menyerang pasukan-pasukan pengawalnya itu di tengah jalan. Kemudian Wijaya dan pasukannya menyerang pasukan Cina yang berada di Daha dan di Canggu. Meskipun melakukan perlawanan yang kuat, namun sejumlah 3000 orang pasukan Cina dapat dibinasakan oleh Wijaya dan pasukannya. Sisa pasukan Cina terpaksa meninggalkan Pulau Jawa dengan kehilangan banyak anggota pasukan lainnya yang gugur atas serangan balik mendadak dari Wijaya itu.

Dengan kedatangan tentara Kubilai Khan tersebut, maka tercapailah keinginan Wijaya untuk meruntuhkan Kadiri. Dan setelah Wijaya berhasil mengusir tentara Mongol tersebut dari Pulau Jawa, maka ia menobatkan dirinya sebagai raja Majapahit yang menurut Kidung Harsa Wijaya penobatan tersebut terjadi pada tanggal 15 bulan Karttika tahun 1215 Saka dengan gelar penobatannya adalah Sri Kertarajasa Jayawarddhana.

Pada masa pemerintahan Kertarajasa Jayawarddhana, kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang tepercaya Kertarajasa, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang tepercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati. Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309. (KYR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar