28 Jan 2011

Untuk Para Sahabatku, Pemuda Indonesia

"... revolusi belum usai. Aku memaknai nya dari sekup terkecil dulu, sejarah. Dan ga mau terbawa romantisme kalau revolusi berarti negara yang direvolusi. Itu bodoh.
Kalau ga mulai, terbiasa dan bisa dari yang terkecil, gimana bisa merevolusi sebuah negara dengan sistemnya yang bobrok lah, moralnya lah, apa lah... Mulai dari yang terkecil. Dan mereka kaum yang suka mengkritik apa pernah berpikir soal ini? Aku rasa tidak. Mereka terlalu sibuk membaca buku dan berpikir instan bagaiamana caranya bisa mengkritik lagi dan terlihat sebagai sosok intelektual-radikal. Radikal memang menjual dan sekarang sudah menjadi icon dan komoditi. Pendangkalan imej. Sejarah ga butuh orang-orang yg selalu cari muka kaya gitu. Pun ga butuh orang2 agamis tulen yg suka menyebarkan doktrin bernafaskan Tuhan." -AR-

Ketika suatu hari, seorang teman menyampaikan hal itu kepada saya, dan saya berpikir: hal ini bisa dijadikan bahan renungan tentang apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa terlebih dalam scope yang lebih besar, yakni sebagai pemuda Indonesia. Bagaimana kita dapat menjadi bangsa yang berkembang kalau masing-masing pribadinya masih berpikir sempit?